Marah Versus Maaf (Renungan Menyambut Ramadhan 1436 H)

Nyak Arief Fadhillah Syah
Penyuluh Agama Islam Fungsional Kabupaten Aceh Besar


Kita seringkali dihadapkan pada situasi yang memicu amarah, apapun penyebabnya. Maka pada saat itulah kedewasaan kita diuji, sejauh mana kita sabar dan mampu mengendalikan amarah. Kita kurang menyadari betapa banyak orang akan terhindar dari berbagai kondisi lebih buruk apabila ia mampu mengendalikan amarah pada saat situasi panas. Karena seseorang yang sedang marah acapkali melakukan tindakan-tindakan bodoh yang akan disesali pada saat kemarahan mereda Kita kadang lupa, banyak hal kebenaran yang sulit diterima orang lain hanya karena kita mengatakannya sambil marah. Bukankah yang sering terjadi amarahlah yang acapkali memperkeruh suatu situasi tertentu dalam hidup kita ?

Ilustrasi
Jika kita mau mengakui peristiwa-peristiwa di masa lalu, maka semestinya kita tidak pantas mengumbar amarah, bahkan kita jadi malu sendiri dibuatnya. Benjamin Franklin pernah berkata bahwa semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu. Di sisi yang lain kadang seseorang seolah merasa telah melepaskan beban apabila dapat menyalurkan rasa amarah pada suatu hal, bahkan pada sebagian orang tertentu, mereka dapat menikmati dan merasa puas saat marah. Namun pada hakikatnya perasaan itu ibarat air mendidih yang uapnya terasa hangat di kulit sesaat, perlahan-lahan kehangatan itu menghilang seiring suhu air menjadi normal kembali. 

Manusia tidak akan menemukan kebahagian dengan amarah. Kita bisa mencari orang pemarah saat ia tenang, dan tanyakan mengenai kebahagiannya, atau carilah orang pemaaf, dan tanyalah kualitas kebahagiannya. Jika kita tidak menemukan mereka, maka cobalah bertanya pada kebahagian, apakah ia berani datang pada orang pemarah, atau tanyakan pada penderitaan, apakah ia akan menunda atau memperlambat pertemuannya dengan orang pemarah ? .

Perasaan yang sering kita rasakan saat amarah menguasai diri kita tidak lain adalah gumpalan kejengkelan pada apa saja, bahkan tanpa alasan yang logis kita mulai merasa orang-orang disekitar kita semua terasa menjengkelkan. Pada hal andai kita mulai bersabar, keajaiban-keajaiban mulai menghampiri kita, bahkan kita mampu melihat apapun di sekitar kita berubah menjadi baik. Alangkah bijaksananya jika kita selalu berada dalam kesadaran bahwa berbagai lakon drama kehidupan yang divisualisasikan selalu saja orang pemarah menjadi tokoh jahat dalam berbagai kisah. Kita harus ingat, kita tidak pernah mampu menjadi orang hebat, jika kita belum mampu mengendalikan amarah. Hal ini sangat jelas karena rasa marah adalah ekspresi yang keluar dari perasaan sakit, takut, kalah dan frustasi.

Pandangan Islam

Lalu bagaimana Islam memberi petunjuk kepada kita untuk menghadapi amarah yang dapat saja dimiliki oleh semua kita, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda ? Islam 

Pertama, Memberi maaf karena ingin meraih cinta Allah. Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 134 artinya : “Dan orang yang menahan kemarahan-nya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan (ingatlah) Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara yang baik."

Oleh karena itu Islam mendorong manusia senantiasa bersikap sabar, lemah lembut, dan berhati-hati dalam membuat keputusan. Alangkah baiknya menghindari membuat keputusan dalam keadaan marah. 

Kedua, Memohon kepada Allah agar terhindar dari perilaku syaitan. Hakikat marah itu adalah sifat dan perilaku syaitan. Tupoksi syaitan tidal lain adalah menghasut manusia agar mencontoh sifat dan perilakunya dengan cara-cara yang sangat licik dan bulus, bahkan kita tidak menyadarinya hingga kita begitu percaya bahwa amarah itu sifat yang wajar bagi manusia. Inilah keyakinan yang membelengu manusia hingga ia bertoleransi terhadap sifat pemarah yang ada pada dirinya. Allah SWT berfirman : Dan jika engkau dihasut oleh sesuatu hasutan daripada syaitan, maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat Mendengar lagi Amat Mengetahui. (QS. Al-Araf ayat 200)

Ketiga, Meninggalkan tempat yang menyebabkan seseorang itu marah. Rasulullah bersabda: Ketika salah satu kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, maka hilang marahnya. Dan jika tidak hilang maka hendaklah berbaring. (HR. Abu dawud)

Keempat, Mengambil wuduk. Jika kita dilanda atau didorong rasa ingin marah maka bersegeralah berwudhu. Rasulullah bersabda : Sesungguhnya marah-marah dari syaitan dan sesungguhnya syaitan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah maka hendaklah berwudhu  (HR. Abu Dawud)

Rasulullah telah memberikan banyak sekali contoh sifat maaf dan tidak memperturutkan amarah dan kekuasaan yang dimilikinya. Masih ingatkah kita dengan sejarah bangsa Thaif ? Betapa luar biasanya Rasulullah, dengan berlapang dada dan berpikir strategis, ia memaafkan semua bangsa Thaif yang menghina dan bersikap jahat kepada Rasulullah. Rasulullah tidak terpancing dengan reaksi dan permintaan para malaikat, agar meminta kepada Allah menghukum bangsa Thaif.

Memberi maaf itu adalah sikap strategis bukanlah suatu kelemahan. Rasulullah bersabda "Bukannya kuat (kerana dapat mengalahkan orang), tetapi kekuatan sebenarnya ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." (HR. Al-Tirmizi). Memberikan maaf memiliki manfaat yang besar yang kembali kepada diri kita sendiri, yaitu mengobati rasa sakit hati. Obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hati adalah tak membalas sakit hati, menahan diri untuk kemudian memaafkan. Dengan memaafkan hidup kita akan selalu bahagia, sebab memaafkan tidak lahir kecuali dari hati yang bahagia.

Islam mengajarkan kepada kita agar menjauhi kebiasaan marah-marah ketika menghadapi sesuatu. Karena marah sangat berpengaruh pada kesehatan fisik, pikiran, dan dapat menjadikan stress. Apalagi marah yang berkepanjangan hanya akan menimbulkan kebencian dan melahirkan dendam. Sebaliknya sabar termasuk di antara sekian banyak akhlak utama yang banyak mendapat perhatian di dalam al-Qur'an. Frekuensi penyebutan kata sabr berikut derivasinya terulang sebanyak 103 kali yang tersebar di 93 ayat dan 45 surat. Ini menunjukkan betapa pentingnya mengaplikasikan sabar dalam kehidupan sehari-hari.

InsyaAllah Kamis 18 Juni 2015 kita mulai berpuasa Ramadhan. Marilah kita saling memberikan maaf dan melupakan pertikaian-pertikaian. Allah Sang Khalik saja selalu memberi maaf kepada hambaNya, mengapa pula kita merasa lebih hebat dari-Nya, hingga enggan memaafkan sesama kita…!


*Pernah dimuat di Opini Harian Serambi Indonesua, Selasa, 16 Juni 2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates