SELAMAT MENGABDI

Pengabdian
Tanggal 30 September 2009 menjadi hari yang sangat penting di Aceh, karena anggota DPRA hasil pemilu tahun 2009 diresmikan dengan pengambilan sumpah/janji dalam rapat paripurna istimewa DPRA. Anggota DPRA Aceh ditandai dengan banyaknya wajah baru dengan membawa semangat baru tentang perubahan dan produktifitas kinerja DPRA Aceh. Di pundak mereka terpikul amanah dan tanggungjawab besar rakyat Aceh; mengangkat martabat dan harga diri bangsa ini lebih berbudaya; mendorong dan mengawasi kinerja eksekutif lebih baik, cepat dan strategik serta mewujudkan tujuan politik amar ma’ruf nahi mungkar di bumi Serambi Mekkah ini. 

Di warung-warung kopi di Aceh berkembang diskusi dan analisa terhadap situasi pengambilan janji/sumpah anggota DPRA, baik dari kalangan aktifis, mirip aktifis, tokoh masyarakat maupun mereka menganggap dirinya tokoh, masyarakat biasa dan para pakar. Pandangan atau sekedar pernyataan-pernyataan saja atau nadham dan hadih-hadih majah acapkali mencuap untuk mewakili pandangan yang optimistik ataupun nada-nada pesemis dan miring. Lepas dari itu semua—kenyataan politik yang sulit diabaikan, bahwa hasil pemilu tahun 2009—dengan representasi anggota DPRA dari partai PA yang dominan kali ini dianggap wujud kepercayaan dan mandat dari rakyat yang luar biasa. Hal tersebut akan berbanding lurus dan seimbang dengan tuntutan dan harapan rakyat terhadap kinerja anggota DPRA. Logika ini kemudian diduga akan menaikkan tingkat partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan dalam mengawasi kinerja anggota DPRA, atau setidaknya masyarakat sedang sangat menunggu ”apa yang akan diperbuat oleh DPRA kali ini?”, atau ”mereka bisa buat apa”?. 

Bila hasilnya tidak memuaskan, akan lengkaplah kekecewaan masyarakat selama ini. Pada akhirnya masyarakat semakin mengkristal apriorinya terhadap partai dan politik. Mereka sadar makna politik dalam pengucapan bahasa Aceh memang ”meupolitik”, acapkali digunakan selalu dalam konotasi yang negatif . Dalam konteks ini, bila DPRA tidak mampu ”menggeliat” dan concern terhadap persoalan masyarakat, maka itu artinya dengan kebesaran nama dan struktur yang mengakar, ternyata partai-partai, apalagi Partai Aceh sebagai partai yang mendominasi kursi di DPRA tidak berkutik ketika menghadapi para politikusnya yang ”meupolitik” . 

Dalam kenyataan politik setiap selesai hajat pemilu, apabila dihitung secara matematis, berapa persen sesungguhnya rakyat yang telah tersentuh oleh pencerdasan politik dan demokrasi ? Berapa banyak pembinaan terhadap konstituen oleh partai-partai yang ada? Katakanlah partai-partai nasional yang mengalami pasang surut yang dianggap kurang melakukan pembinaan terhadap konstituennya selama ini telah mendulang hasil yang tidak signifikan pada pemilu 2009 yang lalu, beda halnya partai lokal, mereka masih segar dan khususnya partai Aceh yang diharapkan menjadi icon perubahan politik dan pembangunan di Aceh, mestinya mampu melakukan fungsi kontrol dan evaluasi terhadap kiprah politikusnya di DPRA. Secara sosial politik, masyarakat hari ini begitu pragmatis. Tidak terlalu salah jika kondisinya seperti ini, sebab zaman telah “menggusur” masyarakat untuk selalu bersikap seperti ini. 

Mereka juga ingin selalu instan dalam berbagai hal, termasuk dalam hal politik. Tetapi yang menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan oleh partai dalam proses transformasi sosial ketika menyaksikan konteks masyarakat Aceh saat ini. Sudahkah mereka melakukan penyesuaian yang signifikan atas metode, pendekatan dan materi pembangunan yang menjawab kebutuhan rakyat dan tantangan zaman. Jangan sampai waktu begitu cepat berlalu mengantarkan kita ke Pemilu 2014, sedangkan proses pembangunan demokrasi, politik dan kualitas pelayanan publik tidak bergeser cukup berarti, sehingga berpartai adalah pembelajaran ”meupolitikan masyarakat” atau depolitisasi rakyat secara sistem. 

Pentingnya Mendengar Ada sebuah metode kontemporer yang hari ini berkembang dalam dunia perusahaan di negara-negara maju dalam menentukan sebuah produk. Menentukan sebuah produk ini sangat penting ketika berbicara tentang kualitas dan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap produk tertentu. Ketika pesawat Boing 787 sedang dirancang dan ingin menemukan sebuah rancang interior yang lebih maju dan canggih dari pesawat-pesawat yang sudah ada, maka yang dilakukan oleh pihak perusahaan adalah meminta masukan kepada publik dunia tentang rancangan interior tersebut. Setelah Litbang perusahaannya menemukan jalan buntu dalam mencari rancangan selama waktu pengerjaan 1,5 tahun, ternyata hanya dalam waktu tiga minggu, perusahaan telah mendapatkan masukan yang sangat luar biasa dari publik. 

Pola-pola seperti ini sekarang sudah biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kaliber internasional dalam menentukan sebuah produk yang diminati masyarakat. Manfaatnya adalah kualitas, kecepatan dan tingkat ketepatan atas kebutuhan publik. Kita selalu menganggap bahwa kita paling tahu tentang segala sesuatu, atau paling tidak pada bidang yang kita geluti. Kita tidak menyadari bahwa masih banyak orang yang di luar sana yang jauh lebih mampu dari kita tentang hal-hal yang kita anggap sudah dikuasai. Persoalan politik memang politikus jagonya. Persoalan retorika politik, dalil dan da’i, merekalah gudangnya. Tetapi apa yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat, tentu ummatlah yang paling paham. Maka dalam frame ini, para wakilnya dapat menjadikan sebagai celah untuk mendorong partisipatif masyarakat dalam melaksanakan fungsi-fungsi dewan pada tingkat komunitas. 

Para birokrat terkadang terlalu memaksakan sebuah program pembangunan tertentu dengan metode yang selalu monoton. Ada kecenderungan pembangunan dianggap lebih mantap jika dilakukan dengan jamaah kolosal di tempat yang luas dan diiringi dengan acara-acara seremonial tertentu. Ada sebuah inovasi dimana para pemimpin dan politikus kemudian beradaptasi dengan media massa, katanya supaya masuk pada berbagai level masyarakat dan lebih massif. Langkah ini tentu sangat tepat, karena sesuai dengan tuntutan zaman. Namun yang kurang disadari adalah bahwa implementasi program pembangunan secara benar dan tepat itulah yang memberikan kontribusi terhadap adanya perubahan atau tidak. 

Di sini program pembangunan tidak ubahnya menjadi sebuah tontonan yang menarik, bukan dari sisi substansi dan implementasi programnya tetapi berkisar pada isu dan jargon-jargon politik belaka, bahkan berubah seolah-olah menjadi acara entertain dan birokrat dan para politikus menjadi artis. Oleh karenanya tidak ada salahnya bila hari ini para wakil rakyat yang terhormat itu meminta masukan dari berbagai kalangan masyarakat yang selama ini tidak terjamah. Mengapa ini perlu, sebab pola menjalankan fungsi-fungsi dewan dan memperjuangkan aspirasi rakyat dengan cara mendengarkan aspirasi masyarakat ini sudah tepat pada zamannya. 

Disamping itu, kita tidak layak untuk selalu mengklaim bahwa kita serba tahu tentang semua persoalan. Di zaman informasi, masyarakat setiap detik mendapat banyak informasi tentang segala sesuatu, jadi mereka tentu sangat tahu dengan cara apa mestinya mereka diperjuangkan. Memahami itu semua akan memberikan harapan baru kalau kita ingin mengajak mereka untuk berpartisipasi. Selamat berjuang wakil rakyat…dan mengabdilah…! 

 *Tulisan ini pernah dimuat di Opini Harian Serambi Indonesia, 1 Oktober 2009

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates