TAWAKAL

Banyak orang salah mempersepsikan makna tawakal, yaitu sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contoh sederhana bahwa acapkali pernyataan seperti “ini sudah nasib atau takdir, kita jalani saja” menjadi suatu hal yang biasa kita dengar.
Tampaknya ada ambiguitas dalam pernyataan senada itu, dimana pada hal yang negatif atau yang tidak menguntungkan, serta merta orang menghubungkannya dengan takdir Allah dan kita harusnya bertawakkal. Sebaliknya terhadap hal-hal yang positif atau menguntungkan seringkali tidak dikaitkan dengan takdir Allah. Kesannya seakan takdir Allah hanya melekat pada sesuatu yang tidak mengenakkan.
Jika cara demikian kita memahami takdir dan bertawakkal kepada Allah, maka manusia dalam ketidakberdayaannya acapkali menuding ada campur tangan Allah dalam masalah tersebut sehingga manusia dituntut untuk pasrah dan berharap ada keajaiban berupa pertolongan Allah, seperti ungkapan sehari-hari kita dengar, “saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban.”. Pada stadium yang lebih parah tumbuhlah prasangka buruk kepada Allah dengan pernyataan dan keluhan ”mengapa buruknya takdir ku ini...!?” Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakal ? Sebenarnya bagaimana pemahaman tawakal menurut Islam ? .

Tawakal yang Sebenarnya
Dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, dijelaskan pengertian tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Tawakal merupakan sikap menyerahkan semua urusan kepada Allah serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya dan manfaat kecuali Allah semata. Penyandaran hati yang benar dalam pengertian tawakkal yang benar itu disertai dengan usaha keras, bukan diam dan tidak melakukan apa-apa.
Menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan atau ditakdirkan. Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Formulasinya adalah ”usaha merupakan cermin ketaatan kepada Allah untuk meraih sebab”, sedangan tawakal dengan hati merupakan refleksi keimanan seseorang”.
Dalam al-Qur’an surah. An-Nisa (4): ayat 71 menjelaskan “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada”. Allah juga berfirman “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal (8): 60). Lebih tegas lagi Allah memerintahkan manusia untuk segera bekerja keras setelah ia tunaikan ibadahnya, seperti firman Allah dalam QS. Al Jumu’ah (62): 10, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”
Umar bin Khatab berkata, bahwa Nabi Saw bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310). Hal ini dikuatkan dengan riwayat Imam Ahmad, dimana ia pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Rasulullah telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” Dalam Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69 dijelaskan maksud dari hadist ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki.

Tawakal yang Termasuk Syirik
Kegiatan usaha sebagai suatu sebab mendapatkan rezeki pada hakikatnya bukanlah ”sebab” itu yang memberi rezeki, melainkan Allah sebagai Ar-Razzaq. ”Sebab” itu hanya menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan merupakan bentuk refleksi iman yang benar.
Dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim, Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan atau ibadah hati semata, yang hanya wajib ditujukan kepada Allah. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah --yaitu sebab yang dilakukan-- maka hal ini juga termasuk syirik. Seperti bersandar pada makhluk agar memperoleh rezeki, kebaikan dan keselamatan di dunia dan akhirat, diampuni dosa-dosanya, memperoleh anak, jabatan dan kedudukan. Padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah. Apa yang mereka lakukan dengan tawakal kepada selain Allah merupakan perbuatan yang termasuk syirik akbar, yaitu syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Demikian juga jika seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab, seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut. Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)
Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid, mencontoh mengikuti Rasulullah serta berjihad melawan kebathilan. Allah berfirman “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Wallahu ’alam bishawab


*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia, tanggal 20 Mei 2011

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates