IDEOLOGI BORJUASI

Borjuis
Kontradiksi dalam kehidupan masyarakat moderen di era globalisasi tidak hanya bentrok antara kepentingan stabilitas politik dan ekonomi saja, namun sebenarnya kompleksitas kontradiksi yang luar biasa itu tampak dalam ranah budaya dan psikologis. Dimana di satu sisi masyarakat ingin mempertahankan kultur lamanya yang diyakini ”baik”, ”layak” atau ”pantas”, namun di sisi yang lain mereka menghadapi hegomoni budaya global yang sulit dihindari dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia.

Budaya global tadi acapkali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang telah terinstitusionalisasi dalam masyarakat, sehingga tidak jarang berakibat terjadinya sindrom budaya. Pada satu sisi modernisasi menawarkan budaya global dan hal-hal baru, praktis, efektif, efisiensi, digitalisasi dan modis. Sementara disisi yang lain dianggap kurang humanis, kontraktual, instan, dan kering spiritualitas. Demikian juga halnya nilai-nilai adi luhung budaya timur dan agama dianggap ortodoks, kolot, lambat, jumud dan sulit berkembang. Akibatnya muncullah perlawanan agama terhadap nilai-nilai baru yang menggugat langit, apalagi nilai-nilai baru tadi mengusik dan merogrong nilai-nilai agama yang dianggap sakral dan suci. Pada hakikatnya ambiguitas ini disebabkan oleh adanya ketegangan dan perubahan dalam realitas obyektif di dunia empirik dan terjadinya perubahan kesadaran subyektif di kalangan ilmuwan dan khalayak umum yang mengamati realitas empirik tersebut.


Sederhana Versus Borjuasi

Dalam konteks ini, apabila kita mendiskusikan tentang ”pola hidup sederhana” sebagai lawan ”gaya hidup borjuasi”, maka akan tampak bahwa persepsi hidup sederhana dikalangan masyarakat sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang budaya global dan nilai-nilai. Indikator hidup sederhana mengikuti perubahan-perubahan budaya, kebutuhan dan persepsi seseorang. Bahkan perubahan tingkat ekonomi atau besarnya penghasilan seseorangpun dapat mengubah persepsinya tentang hidup sederhana; dengan kata lain mereka juga tidak mau dituding hidup berlebihan atau bergaya borjuis.

Suatu contoh, entrepreneur muda di Aceh, aktifis LSM, kontraktor, ataupun para pelaku bisnis dan politisi, sebagian mereka memiliki hand phone komunikator yang cukup mahal hingga mencapai harga 12 jutaan. Ini sebanding dengan mereka yang menyewa rumah type 34 bantuan tsunami selama dua tahun di kecamatan Meuraxa, atau sebanding dengan harga satu supra fit baru yang sebagian kalangan hanya mungkin didapat dengan cara kredit. Contoh ini sama sekali tidak menuding bahwa pengguna handphone mahal tidak dibenarkan atau salah. Hanya untuk menunjukkan adanya pergeseran, bahwa pada masyarakat tertentu hand phone tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, sebab dengan kelengkapan fitur dan menunya dapat berfungsi juga sebagai transaksi bisnis, transfer dana, akses internet dan banyak lagi. Sementara fenomena sebagian masyarakat lain masih dalam problem kulturalnya, miskin dan terdesak oleh kebutuhan pokoknya.

Adanya ketegangan antara konstruks sosial dan budaya popular ini berhadap-hadapan dengan nilai-nilai yang telah terinstitusionalisasi dalam konstruk sosial dan budaya. Digitalisasi tehnologi komunikasi sebagai budaya pop mengintrodusir nilai-nilai baru berupa kecepatan, efektifitas, efisiensi, transparansi, prakmatisme, persepsi baru tentang arti kesenangan, bahagia, fashion, gaya hidup. Sementara dalam beberapa kasus tertentu secara relatif, nilai-nilai baru tersebut telah mengurangi porsi interaksi lansung orang dengan orang, meskipun memberikan ragam kemudahan. Misalnya, komunikasi dan pembicaraan kitapun acapkali diinterupsi oleh masuknya panggilan telopon selular atau SMS, sehingga kadang-kadang hal ini cukup mengusik. Bahkan dengan beragam nada sambung, dari irama dakdut, house musik, pop sampai irama gurun pasir sekali-kali terdengar juga di masjid ketika kita sedang shalat, dan ironisnya nada sambung tersebut berbunyi dari hand phone imam, yang pada sebelum shalat telah memperingatkan jama’ahnya untuk mematikan HP sebelum shalat.

Dalam kehidupan sehari-hari, budaya menulis surat adalah ekspresi seni sederhana dan tradisional masyarakat yang hilang. Tidak ada lagi sahabat menulis surat untuk menyampaikan rasa rindu dan persahabatannya, rasa haru biru seorang ibu menulis surat kepada anaknya dalam perantauan atau sebaliknya, dan kehilangan perasaan berdebar-debar menanti balasan surat. Semua diganti secara simpel, terbuka dan kering dengan ” i m u, call me pls”. Inilah kehidupan yang wah, tehnologis, digitalisasi, modernis dan mewakili persepsi-persepsi tentang kemajuan, kehebatan, kemewahan, bojuis dan kecanggihan.

Disisi psikologis, kampanye pola hidup sederhana menjadi elegi dan patut dikasihani karena terpuruk dalam nada rendah dengan beat yang fals, ibarat pukulan besar yang menerpa angin kosong, sia-sia. Immanuel Wallerstein pernah memberikan penjelasan bagus dalam ”The Bourguois (is) as Concept and Reality” dalam Race, Nation, Class; Ambiguous Identities, 1991). Menurutnya, mustahil meminta orang kaya mengikuti pola hidup sederhana. Buat apa jadi kaya, kalau tidak dapat menikmati enaknya menjadi orang kaya. Orang yang paling miskinpun tahu logika ini. Mereka tidak ingin menjadi miskin dan mengikuti pola hidup sederhana, kalau saja ada pilihan yang lain.

Wallerstein mungkin benar ketika menyatakan bahwa menjadi borjuasi kaya tidak berarti menjadi sosok dipropaganda ilmuwan dan birokrat pemerintah di banyak negara; berhemat, bekerja keras, menabung, dan berpikir rasional ke masa depan. Logika ideologi borjuasi sebangun dengan pemikiran hedonisme ide-ide tentang hidup yang berorientasi pada pencarian pemuasan semata .

Setiap orang sah-sah saja mewujudkan keinginan dan memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat fisik atau material, memanjakan diri dengan berbagai macam kesenangan. Persoalannya tidak pada sah atau tidak sah seseorang mewujudkan kesenangannya, menambah pundi-pundi, kepemilikan rumah di berbagai kota, villa di berbagai kota wisata, mobil mewah dan berbagai kemewahan kekayaan lainnya. Apalagi semua itu didapat dengan cara-cara yang benar, bukan hasil korupsi, kolusi, mencuri atau merampok, menipu ataupun memalak dana proyek


Pelajaran Budaya dan Agama

Budaya global telah berhasil menafsirkan kebutuhan hidup masyarakat moderen dalam bingkai materialisme, prakmatisme, hedonistik, dan digitalistik, baik di kota maupun di desa. Fenomena ini mengajarkan kepada kita betapa dibutuhkan penyerapan kembali kearifan budaya asli menjadi realitas yang menumbuhkan rasa ”harga diri”. Kearifan pandangan budaya mengajarkan kepada kita bagaimana melakoni kehidupan yang damai, sejahtera, sederhana, toleran, saling membantu, menjaga tidak munculnya keretakan sosial, semangat bergotongroyong, mengarusutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Tidak ada satu potong ajaran agama yang mengajarkan penganutnya untuk menjadi miskin. Agama selalu mendorong manusia untuk bertebar dipermukaan bumi, berusaha memenui kebutuhan hidupnya. Bahkan dalam agama, bekerja memiliki nilai ibadah selama motivasinya benar-benar dalam rangka mencari ridha Allah dan untuk memenuhi kewajibannya sebagai hamba. Agama memberikan peringatan keras bahwa ”qada al-fakru an yakuuna kufra’, bahwa kefakiran akan mendorong manusia terjebak dalam kualitas kufur.

Islam sangat tegas mengajarkan bahwa dalam setiap harta dan kekayaan manusia ada bagian yang menjadi hak orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq atau sadaqah. Dengan ajaran zakat, infaq dan shadaqa, Islam memberikan pelajaran ekonomi penting bahwa harta dan kekayaan tidak boleh menumpuk pada satu individu, ia harus terdistribusi. Maka dalam terminologi agama distribusi harta selalu memiliki dimensi sosial dan nilai ibadah, seperti zakat, infaq, shadaqah, wakaf, hibbah, mudharabah, qardu hasan dan sebagainya. Secara metafisis inilah makna yang paling dalam dari hakikat bahwa manusia tidak memiliki kemutlakan pada harta dan kekayaannya sebab kemutlakan kepemilikan itu hanya disandarkan pada Allah.

Agama juga menentang perilaku tabsyir atau berlebih-lebihan. Teologi mubazir, memberi pelajaran penting tentang perilaku manusia dalam hubungannya dengan harta dan kekayaan yang dimilikinya. Manusia terhadap harta dan kekayaannya tidak dibenarkan berlebih-lebihan. Agama memberi nilai untuk tidak boros dalam menggunakan harta, tetapi tidak berarti harus kikir ataupun bakhil. Agama juga mengajarkan falsafah hidup yang penting bagi manusia tentang keseimbangan, yang dikenal dengan terminologi ”wasath”, yaitu pertengahan; tidak ekstrim dalam orientasi. Manusia harus memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani, kebutuhan yang bersifat fisik dan metafisik, atau antara yang bersifat materil dan spiritual secara seimbang.. Dengan kata lain bahwa kehidupan dunia ibaratnya adalah jembatan atau titian menuju tujuan kampung akhirat.



Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Opini Harian Serambi Indonesia, 27 Oktober 2008)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates