HATI DAN KEBENARAN

Alkisah, seorang anak kecil dengan polos bertanya kepada ayahnya “ Apa yang membedakan kita dengan binatang sebagai makhluk ?. Dalam kapasitas otak anaknya, si ayah memberikan jawaban sederhana sambil memberi nilai dalam setiap kata jawabannya. “Begini anakku, binatang diberikan akal insting sebagai binatang, tetapi manusia diberikan akal budi”, “manusia diberikan hati hingga ia dapat merasakan sedih, senang, dan marah”, “binatang juga diberikan hati hingga ia dapat merasakan seperti apa yang dirasakan manusia”. “Hanya saja rasa yang ada pada manusia dari proses penyerapan akal budinya dari endapan nilai-nilai, sementara binatang merasakan perasaan-perasaan tersebut oleh akal instingnya sebagai binatang, tidak didasarkan nilai-nilai. Namun didasarkan oleh pengalaman yang terus dialami berulang-berulang hingga memberi pengertian dan pelajaran nilai baginya. Binatang peliharaan yang terus menerus dibiasakan melakukan gerakan-gerakan atau ucapan-ucapan tertentu, ia akan mempraktekkan ketika sinyal diberikan oleh tuannya. Ia senang melakukannya, karena tuannya akan senang dan bangga, bertambah rasa sayang tuannya dan memberikan makan atau bonus makanan kepadanya.

Ilustrasi
Pendek kata binatang dan manusia sama-sama memiliki hati, perbedaannya hanya pada “sampai saja”. “Maksuknya apa yang “sampai saja” itu ayah?”, sela anak itu penuh rasa ingin tahu. Jika binatang selalu saja “sampai hati”. Ia sampai hati menggonggong di larut malam, sementara orang-orang pada nyenyak tidur beristirahat. Ia sampai hati memangsa yang lemah sesamanya, ia kadang sampai hati memakan anaknya sendiri. Ia sampai hati buang kotoran sembarangan. Ia kadang sampai hati juga berlaku diluar kebiasaannya yang telah diajarkan.

”Wah kalau gitu masih sangat baik kita dong yah, dibandingkan binatang ?” . ”Iya seharusnya, jawab orang tua itu pendek sembari memancing rasa penasaran si anak”. Kok iya seharusnya? Dalam realitasnya kita juga acapkali melihat manusia sampai hati membuat orang lain terusik, teracam, memukul, membuat orang lain malu, mengambil hak orang lain secara tidak sah, menfitnah, dan saling membunuh. ”kok gitu ayah ?”, ”berarti sama dong binatang dengan manusia”. ”Iya anakku, kita juga sudah diperingatkan oleh Allah bahwa ada manusia diberikan mata bukan untuk melihat yang baik-baik, diberikan telinga bukan mendengar yang baik-baik, diberikan hati bukan untuk menyerap kebenaran, nah orang seperti ini diumpamakan seperti binatang bahkan lebih rendah lagi”

Jika manusia mengasah hatinya dengan cahaya al-Quran, ia akan mendapatkan kebenaran dan jika kebenaran tersebut direalisasi dalam kehidupannnya ia mendapat intisari dari hidup. Manusia dapat menerjemahkan kebahagian secara lebih bermakna, bahwa bahagia itu adalah menjalani kehidupan ini dengan benar dan menjadi kesabaran dan keberanian sebagai sandingannya. ”Ayah, saya gak ngerti maksud ayah ?”. ”Itu baik anak ku, tandanya engkau mulai peduli apa arti jujur dan benar”. ”Kata guru di kelasku kita tidak boleh bohong, dan harus mengatakan sesuatu yang benar, meskipun kita dirayu dan dibujuk dengan sesuatu”. ”Nah, disitulah pentingnya hati. Hati yang bersih selalu saja menyuarakan hal-hal yang baik dan benar karena pikiran sebenarnya selalu selaras dengan bersitan hati. Maka kenapa seringkali kita susah dan was-was bila ujaran kata kita tidak sesuai hati dan pikiran.

”Kalau gitu, bagaimana agar hati selalu menjaga kebenaran ?”. ”Anakku, engkau mulai semakin cerdas”, ok, apakah engkau pernah melihat bagaimana pohon itu tumbuh subur, hijau daunnya dan berbuah banyak? ”Ya, ayahku, bukankah pohon mangga di kebun kakek begitu lebat buahnya”?, ”tapi ayahku, apa hubungannya semua ini ?”. ”Begini anakku, merapatlah engkau duduk disisi ayah, waktu kakekmu dulu menanam pohon mangga itu, ia merawatnya dengan telaten, disiram dengan teratur, dibersihkan alang-alang yang tumbuh disekitarnya, diberikan pupuk yang memadai, bahkan dipagari dengan bambu agar daunnya tidak dimakan oleh kambing.

Tidak cukup dengan itu, kakekmu selalu memanjatkan do’anya kepada Allah agar mangga itu tumbuh dan memberi hasil. Kakekmu selalu dapat memetik hasilnya, ia menjual mangga ke pasar, dapat membagi-bagikan hasilnya ke tetangga, mengirimkan sebagian mangganya untuk kamu cucunya, dan tidak lupa mengeluarkan zakatnya. Demikian juga halnya dengan hati, ia harus dijaga dengan telaten, disirami dengan ajaran-ajaran agama, dikuatkan dengan shalat, dipupuki dengan amal shalih, dibersihkan dengan puasa dan dibeningkan dengan bacaan al-Qur’an. Maka hati itu tumbuh kokoh berbuah kebaikan-kebaikan, menjadi kebajikan karena dilakukan hanya karena Allah Sang Maha Kebajikan”. ”Ayah, aku bangga punya kakek seperti itu”? ”ternyata kakek bisa lakukan semua dan meninggalkan hasil kerjanya untuk kita, meskipun ia telah tiada”. ”Anakku, itulah kebajikan, selalu saja dikenang bahkan dapat menjadi jariyah yang terus mengalir meskipun nyawa telah merenggang tubuh”. Hahaha, engkau sudah besar, ayahpun bangga padamu, hiasilah hatimu dengan iman dan ilmu agar engkau menjadi ”kebenaran”.

Catatan : Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Opini Harian Serambi Indonesia, 10 April 2009

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates